Kyai adalahssoskyangsederhana namunpenuhdengankarisma. Manusia mampu meninggalkan sejarah yang luar biasa meski mereka telah tiada, meniggalkan jasa, sewaktu masih hidup sehingga menjelma memori yang patut dijiwai dan dibanggakan.
Begitulah kiranya gambaran atau potret seorang tokoh mayarakat sekaligus Kyai besar atau sering disebut dengan Abah Yai. Beliau adalah sosok seorang kyai yang patut kita banggakan dan kita kagumi serta teladani. Karena sifat-sifat beliau yang Alim, Sabar, Cerdas, Bijaksana, serta masyhur dengan kedermawaannya. Beliau merupakan putra pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Syarifudin dan Ibu Khoiriyah. Beliau lahir di Blarakan Kebulen Kota Pekalongan pada tanggal 31 Desember 1950. Adik pertamanya yaitu Kyai Syahril terkenal dengan suara merdunya dan adik yang kedua yaitu Mbah Syaikhu yang terkenal dengan ilmu Himahnya. Dalam berdakwah, beliau bergrilyadaristu jamaah ke jamaah lain. Hingga sekarang ada kurang lebih 27 Majlis Ta’lim yang beliau ajar. Sejak dulu memang kiprah beliau sebagai seorang kyai hebat memang sudah tak bisa dipungkiri.Berawal dari kiprah seorang Qori hebat hingga kini menjadi sosok kyai yang hebat. Beliau terkenal dengan Bacaan Al Qura’nnya yang fasih sekaligus beliau menguasai Qiroatussaba’ah dan ilmu kitabnya kuning yang boleh dibilang sudah diluar kepala. Tak jarang beliau memberikan tafsir Al Quran dengan metode Nahwu Sorof sehingga memilki makna yang mendalam. Maka dari itu beliau memang pantas mendapat julukan Kyai Hebat.
Pendidikan formal yang beliau tempuh hanya sampai kelas 3 SD atau dulu disebutnya SR (sekolah rakyat). Mengapa demikian? Karena ada sebuah cerita bahwa yang membuat beliau tidak mau sekolah lagi karena tak bisa membuat tugas prakarya yang gurunya tugaskan. Ketika dihari pengumpulannya, beliau pun tak mengumpulkan. Akhirnya beliau dapat sangsi dari gurunya. Bukannya jera, beliau malah memberontak lari terbirit-birit. Sesampainya dirumah, beliau menceritakan kepada bapak beliau tentang peristiwa tadi. Terjadi perbincangan sengit dan akhirnya mengahasilkan keputusan bahwa Abah yai memutuskan untuk berhenti sekolah dan memilih melanjutkan ke pondok pesantren.
Keinginan beliau untuk menuntut ilmu tidak pernah luntur dan pupus. Awal kali beliau menempuh dunia pesantren saat beliau ikut ngaji di pondok Ribatul Muta’alim saat usia 7 tahun. Setelah itu beliau pindah ke Pondok Payaman Magelang dan cukup lama disana. Tak sampai disitu, beliau kembali melanjutkan mencari ilmu agama di suatu pondok di Purbalingga, kemudian kembali mondok ke Pondok Buntet Banten dan selanjutnya beliau memilih menimba ilmu di Arab Saudi dekat dengan kota Mekkah selama kurang lebih 5 tahun untuk meninmba ilmu Qiraatus Sab’ah.
Ada suatu cerita dimana itu menjadi asal-usul mengapa beliau yang akhirnya menjadi sosok kyai yang karismatik. Saat itu beliau sedang berada dirumah sederhana orang tuanya yang masih berdinding pagar dan sekelilingnya berupa kebun yang masih rindang. Tiba-tiba datanglah seorang kakek tua yang menanyakan nama KH.Zainal Arifin. Abah yai pun bingung karena disini tidak ada KH.Zainal Arifin, adanya Zainal Arifin. Dengan bahasa menggertak kakek tua itu menyuruh mengulang nama KH.Zainal Arifin sebanyak tiga kali dan mengaku bahwa Abah yai adalah sosok yang dicari kakek itu. Kemudian Abah yai menoleh kesamping. Setelah menoleh tiba-tiba sosok kakek itu hilang. Dan setelah peristiwa itu abah yai sering di panggil untuk qiro dan mengajar ngaji. Oleh karenanya beliau menjadi sosok kyai besar yang di segani dan dikagumi di hati masyarakat.
Dibalik keberhasilannya, banyak cerita tentang susah payah dalam mencari ilmu diberbagai pondok yang beliau singgahi. Namun beliau tatap sabar dan istiqomah dalam mencari ilmu. Nah inilah yang menjadi kunci keberhasilan beliau. Sabar dan istiqomah. Semoga kita sebagai santri dan penerus para ulama bisa meniru keistiqomahan beliau. Kini beliau menjadi pengasuh pondok yang beliau dirikan yaitu Pondok Pesantren Salaf dan Tahfidzul Quran Al-Arifiyah dan kini usia beliau sudah menginjak 66 tahun. Semoga beliau selalu sehat dan tetap istiqomah memberikan ilmu nafinya kepada kita.

