Penulis : Hanif dzakiri
Gusdur pahlawan HAM dan liberalisme konstitusional
Didalam bukunya hanif dzakiri yang berjudul "41 warisan Gusdur" hlm. 69
Tercatat bahwa gusdur sangat menghormati dan menjunjung tinggi Hak asasi manusia.
Hak asasi sendiri baginya perintah dari konstitusi dan anjuran islam yang paling dasar.
Ada beberapa hal yang ketika dibaca dan dianalisis tentang pemikirannya benar benar sangat kontroversi bagi kita yang secara pengetahuannya sangat minim.
Baca juga : Sholat ied ditiadakan? Ini jawaban ilmu mantiq (Logika dalam hukum? https://dawuhsangkyai.blogspot.com/2020/04/ilmu-mantiq-menjawab-persoalan-ibadah.html?m=1
Yang masih sangat kontroversi dan mungkin tidak bisa dilupakan pada masa itu yakni ketika gus Dur ingin mengusulkan penghapusan TAP MPRS. No. XXV th 1966 soal pelarangan penyebaran partai komunis Indonesia dan pelarangan penyebaran ajaran komunisme , marxisme dan leninisme.
Saat itu benar benar MPR dibuat gebrek olehnya, dan mengadakan rapat hari senin (29/5/2000) yang pada hasilnya ditolak, seluruh fraksi MPR yang ada di panitia ad Hoe ll badan pekerja (PAH ll BP)
Seringkali Gusdur memandang hal yang berbeda sehingga banyak memunculkan kontroversi.
Mari kita buka pikiran kita sedikit saja untuk mengetahui maksud dan tujuan Gusdur.
1. Minoritas terkadang tidak dipikirkan oleh para kaum politikus, sehingga apa yang berada di lingkungannya, ya merekalah yang akan dipikirkan. Padahal secara ideologi (pengetahuan) masih banyak diluar sana yang masih memegang kepercayaannya terkait ideologi lain. Marxisme, komunisme, leninisme dll
Sehingga secara tidak sadar semua akan mempelajari sejarah, dan melihat keadaan diluar sana tentang hal itu.
Bukankah secara konstitusional mereka memiliki hak untuk berfikir, hak untuk pemerintah untuk menghormati dan melindungi mereka semua
2. Secara pemikiran, sebenarnya yang dimaksud Gusdur adalah komunisme secara ideologi (pengetahuan) , bukan komunisme sebagai gerakan G 30 s PKI.
Secara sejarah juga terkadang manusia lupa akan hadirnya sesuatu.
Bisa kita lihat, bahwa Pancasila ketika dirumuskan adalah adonan dari berbagai ideologi.
Termaktub dan terpampang jelas, bahwa sila ke 5 tentang keadilan dan Egaliterlisme Pancasila pun juga perwujudan dari ideologi marxisme . Namun lagi lagi , sifat manusia tak mau memandang sebuah kepentingan sejarah sehingga seringkali lari dari kenyataan.
Jika ingin berdiskusi dengan penulis
Silahkan bisa mampir ke blog dan kirim ke email kritik dan saran
muhammadari18031998@gmail.com
Terimakasih
#Perubahanpolapikir
#bukanakalsehat
#tapiberfikirsehat
#sejarahgusdur
Jika dengan menulis membuatku bermanfaat jadi manusia Maka aku pilih, Untuk menulis agar menjadi manusia yang bermanfaat.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Kemeriahan Musabaqoh Ilmiah Pekan haflah Akhirussanah ke-38Pondok Pesantren Al-Arifiyah Kota Pekalongan.
Kemeriahan Musabaqoh Ilmiah Pekan haflah Akhirussanah ke-38Pondok Pesantren Al-Arifiyah Kota Pekalongan. Menjelang Haflah Akhirussanah PPST...
-
Kemeriahan Musabaqoh Ilmiah Pekan haflah Akhirussanah ke-38Pondok Pesantren Al-Arifiyah Kota Pekalongan. Menjelang Haflah Akhirussanah PPST...
-
Dia memang aneh Penulis : Hanif dzakiri Gusdur pahlawan HAM dan liberalisme konstitusional Didalam bukunya hanif dzakiri ...
-
Penulis : Hanif dzakiri Gusdur pahlawan HAM dan liberalisme konstitusional Didalam bukunya hanif dzakiri yang berjudul "41 warisa...
No comments:
Post a Comment