Thursday, May 21, 2020

Membedah kecerdasan Gusdur

Dia memang aneh

Penulis : Hanif dzakiri

Gusdur pahlawan HAM dan liberalisme konstitusional



Didalam bukunya hanif dzakiri yang berjudul "41 warisan Gusdur" hlm. 69

Dalam swjasehnya tercatat bahwa gusdur sangat menghormati dan menjunjung tinggi Hak asasi manusia.
Hak asasi sendiri baginya perintah dari konstitusi dan anjuran islam yang paling dasar.
Ada beberapa hal yang ketika dibaca dan dianalisis tentang pemikirannya benar benar sangat kontroversi bagi kita yang secara pengetahuannya sangat minim.
Yang masih sangat kontroversi dan mungkin tidak bisa dilupakan pada masa itu yakni ketika gus Dur ingin mengusulkan penghapusan TAP MPRS. No. XXV th 1966 soal pelarangan penyebaran partai komunis Indonesia dan pelarangan penyebaran ajaran komunisme , marxisme dan leninisme.

Saat itu benar benar MPR dibuat gebrek olehnya, dan mengadakan rapat hari senin (29/5/2000) yang pada hasilnya ditolak, seluruh fraksi MPR yang ada di panitia ad Hoe ll badan pekerja (PAH ll BP)
Seringkali Gusdur memandang hal yang berbeda sehingga banyak memunculkan kontroversi.
Mari kita buka pikiran kita sedikit saja untuk mengetahui maksud dan tujuan Gusdur.
1. Minoritas terkadang tidak dipikirkan oleh para kaum politikus, sehingga apa yang berada di lingkungannya, ya merekalah yang akan dipikirkan. Padahal secara ideologi (pengetahuan) masih banyak diluar sana yang masih memegang kepercayaannya terkait ideologi lain. Marxisme, komunisme, leninisme dll.
 Sehingga secara tidak sadar semua akan mempelajari sejarah, dan melihat keadaan diluar sana tentang hal itu.
Bukankah secara konstitusional mereka memiliki hak untuk berfikir. serta hak untuk pemerintah untuk menghormati dan melindungi mereka semua.

2. Secara pemikiran, sebenarnya yang dimaksud Gusdur adalah komunisme secara ideologi (pengetahuan) bukan komunisme sebagai gerakan G 30 s PKI.
Secara sejarah juga terkadang manusia lupa akan hadirnya sesuatu.
Bisa kita lihat, bahwa Pancasila ketika dirumuskan adalah adonan dari berbagai ideologi.
Termaktubdan terpampang jelas, bahwa sila ke 5 tentang keadilan dan Egaliterlisme Pancasila pun juga perwujudan dari ideologi marxisme . Namun lagi-lagi sifat manusia tak mau memandang sebuah kepentingan sejarah sehingga seringkali lari dari kenyataan.

Jika ingin berdiskusi dengan penulis
Silahkan bisa mampir ke blog dan kirim ke email kritik dan saran
muhammadari18031998@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Kemeriahan Musabaqoh Ilmiah Pekan haflah Akhirussanah ke-38Pondok Pesantren Al-Arifiyah Kota Pekalongan.

Kemeriahan Musabaqoh Ilmiah Pekan haflah Akhirussanah ke-38Pondok Pesantren  Al-Arifiyah Kota Pekalongan. Menjelang Haflah Akhirussanah PPST...