Hegemoni mahasiswaa terhadap budaya
seni
berasal dari bahasa melayu, kata seni memiliki makna “halus”, “kecil” dan
“tipis” semua yang ada dibenak manusia menganggap bahwa seni merupakan sebuah
karya yang bisa dituangkan lewat apapun seperti menuangkan kecintaan melukis,
menari, bermain musik dan juga mengungkapkan hajat nya melalui sebuah syair
indah , hingga tak jarang ketika pepatah mengatakan hidup tanpa seni bagai
hidup tanpa arti tuturnya.
Berawal
daridongengan di angkringan pojok kota saat malam hari berawal sebuah ide
tentang sebuah kekhawatiran terhadap kekayaan yang dimiliki oleh bangsa
Indonesia yang sangat beragam yang kian lama kian menghilang, bukan ditiup
angin, bukan pula disimpan dimarkas kesenian kota daerah melainkan terkadang
dikleim oleh negeri seberang hingga kekayaan tersebut kian lama aka habis.
Bukan hanya itu suguhan yang diberikan oleh media seakan meracuni alam bawah
sadar kita bahwa budaya-budaya yang dulu dianggap tidak mengikuti zaman,
dianggap tidak trend hingga akhirnya budaya yang dianggap kuno itu sedikit demi
sedikit hilang. Mirisnya, kebudayaan yang dianggap kuno tersebut akan lebih
terobati jika memang benar-benar hilang ditelan bumi karena sifat manusia yang
mulai enggan melestarikanbudaya-budaya tersebut, akan tetapi hal itu hilang
bukan saja hilang melainkan direnggut dan digondol oleh negeri seberang sana.
Dimana hal tersebut sangat menjengkelkan , hinga dirasa ada yang aneh tentang
semua itu. Bayangkan? Ketika salah satu dari budaya negeri ini di kleim oleh
mereka seperti dalam ranah tarian, lagu daerah, dan masih banyak yang lainnya
dikembangkan oleh pemerintah mereka ,merasa sangat menjengkelkan bukan? Namun
apa yang harus kita lakukan ? hanya diamkah? Menunggu dan menunggu hingga semua
warisan budaya yang diturunkan oleh nenek moyang akan hanya sebuah cerita? apa
peran kita sebagai masyarakat yang katanya cinta terhadap negeri ini? Kita
masyarakat modern Indonesia memang mempunyai cara berfikir yang berbeda sekali
dengan nenek moyang kita yang pra modern. Fikiran kita secara ontologis ,
selalu membuat jarak dengan objek pengetahuan kit. Pegetahuan kita adalah
pengetahuan yang dapat dibuktikan secara empiris dan secara rasional-logis.
Sedangkan epistemologi Indonesia pra modern tidak membedakan adanya dualism
objek dan subje. Bukankah manusia bukan bagian terpisah dan dalam menghadapi
yang berada diluar dirinya sebagai subjek. Fikiran pra modern adalah
totalitas-holistik yang menyamakan subjek dan objeknya. Namun perlu ditekankan kembali, keresahan ini nampaknya
membuahkan hasil hingga akhirnya terbesit dalam pikiran untuk melakukan sebuah
acara dialog interaktif dengan budyawan kota setempat. Dengan bermodal nekad
dan penuh semangat anak-anak yang juga memiliki keresahan malam itu, mulailah
dirancang untuk menerobos dinding kejengkelan yang kian lama terpendam. Ide
demi idepun mulai bermunculan awalnya kita hanya menginginkan bagian finalnya
adalah kesadaran pada saat dialog interaktif namun, setelah diskusi kelanjutan
kurang ada bumbu nampaknya jika hanya difokuskan kepada dialognya saja,
akhirnya kita mulai memperluas jaringan terhadap mereka yang juga memiliki rasa
cinta terhadap budaya (ini hanyalah alasan kita agar dapat menampilkan mereka
dengan tanpa tarif, karena memang dana ini pure dari mahasiswa dan mengandalkaan
proposal) hingga akhirnya dengan memiliki jaringan yang cukup luas
didapatkanlah sanggar seni musik, tarian
dan juga teater yang saat itu dari bagian anak IAIN Pekalongan, ada juga yang
ikut berpartisipasi dalam acara tersebut seperti yang ditorehkan oleh mahasiswa
Unikal dan anak-anak Pemalang dalam segi music band. Akan tetapi kurang
nampaknya jika hanya dihadiri oleh kalangan mahasiswa saja, dari kumpulan
lanjutan menghasilkan ide baru untuk mengundang komunitas-komunitas sekitar dan
mereka juga welcome untuk kegiatan ini seperti : anak motor MX, pecinta budaya, pecinta lukisan (sketser),
komik kota pekalongan, sahabat menulis pekalongan, dan pecinta kali loji. Dan
Alhamdulillah untuk acara ini sebagian mereka yang diundang datang walaupun
tidak semuanya.
Acara
ini dimulai dari jam 14.00 hingga sampai jam 12 malam yang bertemakan
“mengembalikan ghiroh budaya yang terkikis oleh zaman now” , awalnya juga
pernah menambahkan sebuah ide untuk membuka stand dari berbagai aspek seperti
stand alat tradisional, pakaian tradisional, kuliner khas dari berbagai daerah,
namun lagi-lagi untuk penyewaan tempat di kantor BPKD mengutarakan bahwa jika
dalam acara tersebut terkandung unsure bisnis maka penyewaan tempat harganya
semakin melangit. Kendala itu menjadi tamparan besar buat kami seorang
mahasiswa yang tidak memiliki uang segitu banyaknya. Hingga kemudian niat itu
tak terlaksana . hiburan mulai dari musik band dan akustik, tarian-tarian dibingkis
oleh keindahan sastra dalam bait puisinya dapat berjalan dengan sesuai rencana
walaupun masyarakat dan anak-anak komunitas ketika sore hari pulang dan tidak
sampai pada diksusi publiknya yang menjadi nilai penting dalam acara ini.
Semoga dengan pembicara pak Ribut ahwandi budayawan pekalongan yang memberikan
gambaran tentang pentingnya hidup dengan melestarikan budaya dapat terus
terbenak dihati para audien , harapannya bisa mengaplikasikan apa-apa yang
telah disampaikan oleh beliau.
No comments:
Post a Comment