Tuesday, June 23, 2020

Hegemoni mahasiswaa terhadap budaya



Hegemoni mahasiswaa terhadap budaya
seni berasal dari bahasa melayu, kata seni memiliki makna “halus”, “kecil” dan “tipis” semua yang ada dibenak manusia menganggap bahwa seni merupakan sebuah karya yang bisa dituangkan lewat apapun seperti menuangkan kecintaan melukis, menari, bermain musik dan juga mengungkapkan hajat nya melalui sebuah syair indah , hingga tak jarang ketika pepatah mengatakan hidup tanpa seni bagai hidup tanpa arti tuturnya.
Berawal daridongengan di angkringan pojok kota saat malam hari berawal sebuah ide tentang sebuah kekhawatiran terhadap kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang sangat beragam yang kian lama kian menghilang, bukan ditiup angin, bukan pula disimpan dimarkas kesenian kota daerah melainkan terkadang dikleim oleh negeri seberang hingga kekayaan tersebut kian lama aka habis. Bukan hanya itu suguhan yang diberikan oleh media seakan meracuni alam bawah sadar kita bahwa budaya-budaya yang dulu dianggap tidak mengikuti zaman, dianggap tidak trend hingga akhirnya budaya yang dianggap kuno itu sedikit demi sedikit hilang. Mirisnya, kebudayaan yang dianggap kuno tersebut akan lebih terobati jika memang benar-benar hilang ditelan bumi karena sifat manusia yang mulai enggan melestarikanbudaya-budaya tersebut, akan tetapi hal itu hilang bukan saja hilang melainkan direnggut dan digondol oleh negeri seberang sana. Dimana hal tersebut sangat menjengkelkan , hinga dirasa ada yang aneh tentang semua itu. Bayangkan? Ketika salah satu dari budaya negeri ini di kleim oleh mereka seperti dalam ranah tarian, lagu daerah, dan masih banyak yang lainnya dikembangkan oleh pemerintah mereka ,merasa sangat menjengkelkan bukan? Namun apa yang harus kita lakukan ? hanya diamkah? Menunggu dan menunggu hingga semua warisan budaya yang diturunkan oleh nenek moyang akan hanya sebuah cerita? apa peran kita sebagai masyarakat yang katanya cinta terhadap negeri ini? Kita masyarakat modern Indonesia memang mempunyai cara berfikir yang berbeda sekali dengan nenek moyang kita yang pra modern. Fikiran kita secara ontologis , selalu membuat jarak dengan objek pengetahuan kit. Pegetahuan kita adalah pengetahuan yang dapat dibuktikan secara empiris dan secara rasional-logis. Sedangkan epistemologi Indonesia pra modern tidak membedakan adanya dualism objek dan subje. Bukankah manusia bukan bagian terpisah dan dalam menghadapi yang berada diluar dirinya sebagai subjek. Fikiran pra modern adalah totalitas-holistik yang menyamakan subjek dan objeknya.  Namun perlu ditekankan kembali, keresahan ini nampaknya membuahkan hasil hingga akhirnya terbesit dalam pikiran untuk melakukan sebuah acara dialog interaktif dengan budyawan kota setempat. Dengan bermodal nekad dan penuh semangat anak-anak yang juga memiliki keresahan malam itu, mulailah dirancang untuk menerobos dinding kejengkelan yang kian lama terpendam. Ide demi idepun mulai bermunculan awalnya kita hanya menginginkan bagian finalnya adalah kesadaran pada saat dialog interaktif namun, setelah diskusi kelanjutan kurang ada bumbu nampaknya jika hanya difokuskan kepada dialognya saja, akhirnya kita mulai memperluas jaringan terhadap mereka yang juga memiliki rasa cinta terhadap budaya (ini hanyalah alasan kita agar dapat menampilkan mereka dengan tanpa tarif, karena memang dana ini pure dari mahasiswa dan mengandalkaan proposal) hingga akhirnya dengan memiliki jaringan yang cukup luas didapatkanlah sanggar seni  musik, tarian dan juga teater yang saat itu dari bagian anak IAIN Pekalongan, ada juga yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut seperti yang ditorehkan oleh mahasiswa Unikal dan anak-anak Pemalang dalam segi music band. Akan tetapi kurang nampaknya jika hanya dihadiri oleh kalangan mahasiswa saja, dari kumpulan lanjutan menghasilkan ide baru untuk mengundang komunitas-komunitas sekitar dan mereka juga welcome untuk kegiatan ini seperti : anak motor MX,  pecinta budaya, pecinta lukisan (sketser), komik kota pekalongan, sahabat menulis pekalongan, dan pecinta kali loji. Dan Alhamdulillah untuk acara ini sebagian mereka yang diundang datang walaupun tidak semuanya.
Acara ini dimulai dari jam 14.00 hingga sampai jam 12 malam yang bertemakan “mengembalikan ghiroh budaya yang terkikis oleh zaman now” , awalnya juga pernah menambahkan sebuah ide untuk membuka stand dari berbagai aspek seperti stand alat tradisional, pakaian tradisional, kuliner khas dari berbagai daerah, namun lagi-lagi untuk penyewaan tempat di kantor BPKD mengutarakan bahwa jika dalam acara tersebut terkandung unsure bisnis maka penyewaan tempat harganya semakin melangit. Kendala itu menjadi tamparan besar buat kami seorang mahasiswa yang tidak memiliki uang segitu banyaknya. Hingga kemudian niat itu tak terlaksana . hiburan mulai dari musik band dan akustik, tarian-tarian dibingkis oleh keindahan sastra dalam bait puisinya dapat berjalan dengan sesuai rencana walaupun masyarakat dan anak-anak komunitas ketika sore hari pulang dan tidak sampai pada diksusi publiknya yang menjadi nilai penting dalam acara ini. Semoga dengan pembicara pak Ribut ahwandi budayawan pekalongan yang memberikan gambaran tentang pentingnya hidup dengan melestarikan budaya dapat terus terbenak dihati para audien , harapannya bisa mengaplikasikan apa-apa yang telah disampaikan oleh beliau.

No comments:

Post a Comment

Kemeriahan Musabaqoh Ilmiah Pekan haflah Akhirussanah ke-38Pondok Pesantren Al-Arifiyah Kota Pekalongan.

Kemeriahan Musabaqoh Ilmiah Pekan haflah Akhirussanah ke-38Pondok Pesantren  Al-Arifiyah Kota Pekalongan. Menjelang Haflah Akhirussanah PPST...