Kader PMII bukan kader Senayan !
Djudul yang saya tulis, menjelaskan tentang beberapa polemik yang bukan hanya saya saja tak kira.
Menyangkut kaderisasi PMII yang seakan diombang ambing oleh beberapa faktor.
Baik secara internal maupun eksternal.
Namun dalam hal kita akan lebih mengulik kedalam internal yang lebih menjurus Kepada pengenalan para pengurus rayon, komisariat atau cabang diberbagai cabang kota ketika hendak memasuki pengkaderan diawal.
Mungkin ini asumsi saya yang melihat beberapa pengalaman saat ngopi diberbagai kota.
Kalaupun salah silahkan kita bisa cek, apakah omongan saya tidak terbukti.
Mungkin bisa saling mengkritisi secara ilmiah dan hipotesa yang dibuat sebagai pemerkuat.
Namun disini saya tidak menyalakan siapapun, sungguh (Pekik dalam hati).
Saya hanya ingin mengembalikan pemikiran kader kader PMII yang secara mental mungkin goyah karena iming-iming jabatan baik ditataran kampus maupun pemerintah daerah.
Mengapa saya mengatakan hal ini? Berlatarbelakang kegelisahan kader-kader di era pandemik ini terbukti.
Mereka yang secara gerakan memang sudah agaknya berlagak seperti pejabat tingkat tertinggi, sehingga memandang bahwa pekerjaan yang seharusnya bisa kembangkan dia malah terjebak dalam paradigma yang menjadikan arah geraknya terbatasi.
Sebagai orang yang awam tentang pekerjaan apalagi bidang pertanian sungguh sepertinya tidak layak untuk membahas tentang hal ini.
Namun, disini saya hanya akan menyampaikan "Kembalilah ke asalmu, yakni sebagai seorang petani".
Sungguh kembali saya tegaskan, bahwa ajakan ini bukan dari tuntutan senior atau follow up pengkaderan, apalagi ajakan yang bersifat pragmatis.
Tetapi ingin mengajak sahabat-sahabat semua agar bisa mengolah dan mencari ilmu tentang apa itu pertanian, bagaimana mengelolanya, bagaimana bibit yang bagus, bagaimana cara menanam, bagaimana cara mengusir hama, bagaimana agar produk tidak dibawa ke 'tengkulak' yang labanya jauh dimakan olehnya, sehingga menjadikan orang tua kita nampaknya kebingungan melihat harga pasar, dan sampai detik ini.
Kita yang katanya agen of change dan berbakti kepada orang tua, apakah rela melihat keadaan itu terjadi terus-menerus menjerat keluarga kita?.
Sudah waktunya kembali ke asal dan jangan pernah bergengsi membawa cangkul untuk bertani di sawah, atau lebih kerennya membawa bibit siap tanam serta memberikan campuran obat ketika sudah waktunya disemprot.
Saya memang belum survei secara menyeluruh Sabang sampai Merauke, namun silahkan bisa dicek , bahwa beberapa kader PMII adalah anak petani.
Saya jarang menemukan kader PMII anak seorang Jendral atau pegawai bank.
Mungkin kalaupun ada dia adalah anak kepala madrasah, guru madrasah, guru ngaji, atau anak dari aktivis Banom NU walau non struktural.
Ada lagi mungkin anak dosen, anak birokrat namun sudah pasti jumlahnya tidak sebanyak anak petani.
Namun terlepas dari itu beberapa kader PMII yang sudah membaca baik buku kanan maupun buku kiri seakan membuat kita jauh dari keadaan rumah.
Saya pernah mengikuti kajian perihal Teori cinta, politik diberbagai elemen dan bedah buku sekolah candu yang seakan itu agak disukai oleh beberapa aktivis pada eranya.
Artinya, Banyak dari kader-kader PMII yang menikmati lezatnya bayangan menjadi seseorang sukses sesuai kajiannya.
Seakan-akan letak ukuran kesuksesannya seakan menjauhi dari kebiasaan kehidupannya dirumahnya.
Diakui atau tidak, seorang mahasiswa lulusan universitas atau perguruan tinggi rasanya sangat malu tidak kepayang ketika menjalani sebagai seorang petani Karena hal itu tidak lazim dan dianggap tidak sukses oleh paradigma Masyarakat secara patriarki.
Namun pertanian harus kita garap bersama-sama, karena kita tahu bahwa beberapa lahan sawah yang sekarang lama kelamaan dibuat oleh para pemilik modal sebagai lahan bisnis yang tidak memperhatikan lingkungan sekitar, dan pada nanyain sudah pasti sumber pangan Masyarakat Indonesia akan semakin terancam keadaannya.
Adapun hal ini juga sudah di sampaikan oleh Mbh yai hadrorussyekh Hasyim Asy'ari bahwa pekerjaan sebagai seorang petani adalah istimewa.
Dalam sebuah artikel yang termuat di majalah soera moslimin Indonesia No.2 tahun ke-2 , tepatnya pada 19 Muharom tahun 1363 H yang berjudul "Keotamaan bertjojok tanam dan bertani, andjoeran memperbanyak hasil boemi san menjoeboerkan tanah, Andjuran mengoesahakan tanah dan menegakkan keadilan.
Didalam tulisannya beliau petani adalah penolong negeri.
Yang secara artinya sendiri petani adalah berasal dari singkatan Penyangga tatanan Negara Idonesia.
Sehingga dalam tulisannya beliau, sudah seharusnya kita menjadi pejuang rakyat dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat.
Bagi para kader-kader istimewa PMII se Indonesia sudah seharusnya bangun dari sekretariat dan mulai bergerak.
Waktunya diskusi ya diskusi, kajian ya kajian, kaderisasi tetap berjalan. Tapi harus diimbangi dengan manajemen waktu yang harus dimaksimalkan.
Tidak perlu malu untuk bertani dan kembali ke Desa untuk mengatur dan membantu negara ini lewat pertanian. Ndak perlu lagi malu untuk kembali menjaring ikan dengan perahu ditengah laut. Serta memanfaatkan ilmu-ilmu teoritik diberbagai elemen yang sudah diajarkan oleh PMII ketika berproses.
Tetap beribadah dan menjalankan sebagai manusia yang bermanfaat serta menjalankan nilai-nilai dasar pergerakan sebagai wujud kader PMII yang siap menghadapi tantangan di zaman yang penuh kebingungan.
Pekalongan, 11 Juni 2020

No comments:
Post a Comment